Muhammad Willy Ardiansyah Blogs

Just another WordPress.com weblog

Arti Dari Sebuah Kecintaan

Allah swt berfirman: “aku tidak menjadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-KU atau mengenal-KU”

Ibrahim bin adham ra telah berkata: ” kasih sayang itu merupakan hasil dari sebuah perkenalan”   siapa yang kenal Allah maka dia akan mencintai-Nya, siapa yang mencintai Allah dia akan mencintai nabi saw, dan siapa yang kenal nabi saw pasti dia akan mencintainya. kita pernah mendengar sebuah ungkapan yang menarik yang mengatakan bahwa tidak wajar hubungan kita dengan nabi saw  hanya sekedar melakukan suatu amalan dan hanya cukup segitu saja,  akan tetapi seharusnya hubungan tersebut terus membuahkan cinta kepada nabi saw dan cinta itu terus hidup mekar  didalam hati kita. dan pasti Dia akan hidup di dalam hati kita.

Nabi saw adalah seorang nabi yang datang kepada kita sebagai seorang manusia, namun nabi bukanlah seperti manusia biasa. Baginda saw telah mengajar kita cara bagaimana memandang kepada sebuah kehidupan dengan pandangan yang  mempunyai makna, bukan pandangan yang sebaliknya. Perbedaan diantara kedua pandangan itu adalah pandangan yang tidak bermakna itu adalah seseorang yang melihat dirinya dan semata-mata tertumpu untuk memenuhi kepuasan nafsu dirinya. Sedangkan pandangan yang mempunyai makna adalah melihat kepada kehidupan mengikut pandangan yang telah dibawa oleh nabi saw, dimana ia bertujuan untuk mengembalikan semula kekhalifahan diatas muka bumi ini kepada manusia yang tercantum didalam al-qur`an :  inni ja`ilun fil ardhi kholifah….sesungguhnya aku telah jadikan diatas muka bumi ini khalifah (pemimpin) ”.

Pandangan tersebut itu merangkumi kepada hewan, benda-benda tidak bernyawa dan juga tumbuhan. justru itu, pandangan itu bukan hanya melibatkan pandangan kepada manusia saja, akan tetapi turut merangkumi semua. Nabi saw memandangan kepada gunung yang terdiri dari batu dan tanah dengan suatu pandangan yang membangkitkan perasaan cinta. sabda Rasulullah saw : uhud jabalun uhibbunaa wa nuhibbuhu “ uhud adalah bukit yang mencintai kita dan kita juga mencintainya”. pandangan yang ditunjukkan oleh nabi saw kepada yang tidak bernyawa itu menyebabkan gunung uhud itu bergerak dan cenderung kepada baginda saw. Dalam satu peristiwa, bukit uhud bergetar ketika rasul saw mendaki bukit tersebut. kemudian rasul saw bersabda: uskut uhud fa innama alaikan nabi wa shiddiqun wa syahidaan” tetaplah kamu wahai uhud sesungguhnya yang berada diatas kamu ini adalah seorang nabi, abu bakar  As-shiddiq dan dua orang saksi”.

Pandangan yang diberikan oleh nabi saw kepada benda-benda yang tidak bernyawa itu menyebabkan dia datang kepada nabi saw dan menerimanya. Sebuah kisah pelepah tamar yang tidak bernyawa. Nabi saw sering memegang pelepah tamar ketika membaca  khutbah pada hari jum`at dimasjidnya. Hari demi hari manusia semakin bertambah melaksanakan  sholat jum`at.  nabi saw baru menggunakan mimbar, nabi saw pun datang ke mesjidnya untuk khutbah, pada ketika itu rasul saw telah melepasi pelepah tamar tersebut dimana jarak baginda saw dan pelepah itu hanya 8 langkah. Rasulullah saw melangkah menaiki mimbar dan memulakan khutbah, ketika ditengah khutbah, para sahabat mendengar suara tangisan yang amat sedih dan menyayat hati. lama-kelamaan suara tersebut semakin nyaring kedengaran, para sahabat mulai berpaling ke kiri dan ke kanan mencari-cari dari arah mana datang suara tangisan tersebut, akhirnya mereka dapati bahwa suara itu datang dari arah pelepah tamar itu. Apabila benda yang tidak bernyawa itu telah dapati nabi berkomunikasi dengan nya yang mengandungi makna kehidupan yang dibawa oleh nabi saw maka ia telah menggerakkan makna kehidupan pada pelepah tamar itu tadi, oleh itu ia amat menyukai untuk menggambarkan rasa cintanya kepada nabi saw. Hadits ini tingkatannya mutawattir mengikut keshohihannya.

Para sahabat berkata: Apabila pelepah tamar itu mulai menangis seperti kehilangan anak, ia menyebabkan kami hampir tidak mendengar suara nabi saw, kemudian nabi saw pun turun dari mimbar menenangkan pelepah tamar ini,  sekali lagi nabi saw telah mengajar kami satu pengajaran, bahwa nabi datang dengan mempunyai pengetahuan tentang rahasia sebuah kehidupan untuk menenangkan pelepah tamar itu. nabi saw meletakkan tangannya ke atas pelepah tamar lalu membujuknya seperti seorang ibu yang memujuk anaknya yang menangis sehingga pelepah tersebut pun terus diam.
Lalu nabi saw memberi pilihan kepadanya maukah hidup sampai hari kiamat dan kembali kepada nabi saw seperti sedia kala atau berada bersama nabi didalam surga. Pelepah tamar itu memilih untuk bersama nabi saw didalam surga.

Nabi saw apabila datang kepada hewan, nabi saw mengajarkan kepada kita bagaimana cara untuk bermuamalah dengan hewan dengan mempunyai nilai ubudiyah kepada Allah, ketika rasul saw keluar ke medan jihad di perang badar berlaku secara berulang kali dimana nabi saw turun dari  hewan tunggangan tersebut supaya dapat beristirahat sejenak. demikianlah terus menerus nabi lakukan pada tunggangannya. Nabi saw telah mengajar kita cara bermuamalah kepada yang telah berkhidmat untuk kita walaupun ia hanya dari seekor hewan. Muamalah ini haruslah mempunyai nilai rasa menghargai  bahwa yang di hadapanku ini mempunyai hak yang sewajarnya untuk dipelihara.

Hasil dari sebuah kecintaan ini juga dapat dilihat apabila seekor hewan yang berada dipuncak kemarahan sekalipun mau merasakan hubungannya dengan orang yang dapat berkomunikasi dengannya dimana orang itu memahami rahasia sebuah kehidupan.

Terdapat sebuah kisah dimana seekor unta, orang arab tahu bahwa apabila ada unta yang dapat membunuh, mereka pasti akan mengikatnya. Nabi saw melewati kawasan tersebut dan bertanya: apa yang terjadi kepada kalian?? Mereka menjawab unta ini bahaya!! Nabi saw bersabda: bukakanlah ikatan itu” mereka menjawab: kami takut unta ini akan melukaimu ya Rasulullah…nabi bersabda: bukakanlah ikatan itu”. Merekapun membuka ikatan tersebut. Kemudian nabi saw mendekati unta itu  lantas unta itupun diam sebagaimana  diriwayatkan oleh hadits shohih. “ wa ataa ila rasulillah saw mutho`ti aa , berkata seorang perawi telah meriwayatkan :”  fa akabbal  ba`iiru `ala qodami rasulillah saw” unta itu mendekati kaki nabi saw dan menciumnya.” Kemudian ia mengangkat kepalanya.  Nabi saw mendekatinya dan berbicara dengannya  lantas unta itu angkat kepalanya dan mendekati nabi sekali lagi, ia membisikan sesuatu ke telinga nabi saw seterusnya rasul saw kembali berkata-kata kepadanya dan ia pun melakukan perkara yang sama. Setelah itu nabi saw memandang ke arah sohibul tuan yang mempunyai unta  dan berkata: ” sesungguhnya unta ini telah mengadu kepadaku bahwa ia diberikan kerja-kerja yang membebankannya dan kamu juga tidak memberi makan yang baik kepada unta itu” mereka menjawab: “ ya Rasulullah demi keranamu ia akan diberi dengan sebaik-baik makanan untuk unta dan kami tidak akan membebankan selama-lamanya. ” Unta ini berbicara begitu karena nabi saw datang kepadanya dengan membawa makna dalam kehidupan hewan. Rasulullah saw bersabda: wa maa arsalnaa ka illa rahmatan lil`alamiin. ”dan tidak lah aku utus kamu (Muhammad saw) melainkan membawa rahmat kepada seluruh alam” begitulah akhlak nabi saw bersama unta dan benda-benda yang tidak bernyawa.

Maka bagaimana pula mu`amalah nabi saw dengan manusia?  Dimana nabi saw ditugaskan untuk mengangkat martabat manusia  serta mengembalikan manusia kepada sifat kemanusiaannya. Pada hari ini kita dapat belajar satu pengajaran kita hidup sebagai umat nabi saw mengetahui bahwa berbicara dengan alam yang mengelilingi kita pada ketika ini dengan konsep kenabian yang mulia akan menimbulkan keadaan yang lain kepada alam ini serta menjadikan alam ini merasakan rahasia sebuah kehidupan yang di anugerahkan kepada nabi saw untuk memahaminya. Konsep ini merupakan anugrah dari cinta yang bertujuan untuk menggerakkan dalam hati kita sebelum orang lain! Untuk menyadarkan kita sebagai kelompok muslim tentang wujudnya hubungan dengan nabi saw, hal ini akan membuat kita berlomba-lomba dalam perlombaan. Disana kita mampu untuk berbicara dengan alam ini, bahwasanya nabi saw juga diutus untuk mengembalikan rasa hormat manusia kepada dirinya sendiri sebagai manusia dan hormat kepada alam yang berada disekelilingnya sehinggal alam ini juga kembali hormat kepada manusia semula.
Jika kita kembali kepada konsep komunikasi dengan yang berada disekeliling kita dan yang sebaliknya dengan berpandukan ajaran nabi saw, banyak perkara akan berubah kepada suatu keadaan yang lebih baik. karena kita adalah umat nabi Muhammad saw. Aku mohon kepada allah swt agar kita dihidupkan dengan makna ini.

Ya Allah , hidupkanlah makna hubungan denga nabi saw didalam jiwa kami. Gerakkanlah dalam diri kami dengan semangat ini.

Berkatilah mereka yang telah menjalankan program yang baik ini, berikanlah keberkahan kepada yang yang diundang  dan satukanlah kami dengan orang yang kamu cintai dan ridhoi dengan rahmatmu wahai dzat yang maha pengasih dan penyayang.

Amiiin……………………

April 30, 2011 - Posted by | Tak Berkategori

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: