Muhammad Willy Ardiansyah Blogs

Just another WordPress.com weblog

MALU DAN IMAN SALING BERDAMPINGAN

Dari Ibnu Umar rah,Rasulullah saw bersabda: malu dan iman berdampingan keduanya,apabila diangkat salah satunya maka yang satunya terangkat.(HR.Alhakim dan Al-baihaqy)

Ulama mendefenisikan malu dari segi bahasa merupakan suatu perubahan yang tampak pada seseorang dari takut akan aib –aib nya.

Sedangkan menurut istilahnya adalah akhlak yang muncul untuk menjauhi dari segala hal yang buruk dan mencegah dari sesuatu yang tidak benar pada seseorang.

Pada hadits ini dijelaskan bahwasanya malu berdampingan dengan iman sebagaimana dalam riwayat yang lain dikatakan,Rasulullah saw bersabda : Malu merupakan sebagian dari Iman.(HR Muslim dan Tirdmidzi).adapun dijadikannya iman berdampingan dengan malu karena dengan iman seseorang beramal dengan kebaikan dan mencegahnya dari segala kemaksiatan.

Adapun yang dimaksud dalam hadits terangkat salah satunya karena salah satu darinya menyebabkan suatu amalan itu sempurna,seseorang yang beriman tentu orang itu mempunyai rasa malu begitu juga seseorang yang mempunyai sifat malu karena dia beriman,seseorang yang melakukan zina,mencuri,mengambil hak orang lain,korupsi dan lain sebagainya ,ia lakukan tanpa dengan malu dan memang imannya hilang seketika,seseorang yang beriman tidak melakukan tindakan tersebut karena dia tahu meskipun manusia tidak melihatnya namun ada yang menyaksikan tindakan dan perbuatannya yaitu Allah swt.

Seseorang yang berjalan berdua yang bukan muhrimnya ataupun melakukan  hal-hal yang tidak di ridhoi oleh Allah,seperti berciuman dimuka umum yang bukan muhrimnya ataupun membuka auratnya didepan umum, maka seseorang itu dikatakan ia tidak mempunyai sifat malu terhadap apa yang ia lakukan karena malu adalah takut akan aibnya dilihat oleh manusia dan dia takut terhadap murkanya Allah swt,Rasulullah saw bersabda: “Apabila kamu tidak mempunyai rasa malu maka lakukanlah apa yang kamu inginkan” dalam artian apabila seseorang itu tidak mempunyai rasa malu, maka seseorang itu mengerjakan sesuatu tanpa memandang dosa.karena ia tidak malu terhadap Allah apalagi terhadap manusia.

Seseorang yang menceritakan keburukannya terhadap orang lain,dengan rasa bangga bahwa dia telah melakukan perbuatan zina,merampok,minum-minuman keras,merampas hak orang lain dengan rasa bangga tanpa dia sadari dia telah membuka aib-aibnya dan dia tidak malu terhadap Allah yang telah menutup aib-aibnya,Rasulullah saw bersabda : “ setiap umatku akan diampuni kecuali yang menceritakan aib-aibnya,yaitu seorang laki-laki yang melakukan dosa pada malamnya kemudian Allah menutup aib-aibnya,maka ketika paginya ia menceritakan kepada saudaranya bahwa ia telah melakukan dosa itu dan itu.Allah swt telah menutup aib nya akan tetapi dia yang membuka aibnya sendiri”.

Akan tetapi saudaraku bukanlah dari sifat malu itu kamu malu bertanya terhadap suatu ilmu yang tidak kamu ketahui,kamu malu bertanya tentang suatu ilmu yang dapat memberikan suatu kepahaman dari suatu hukum islam yang wajib kamu ketahui,”tidak ada malu dalam agama” maksudnya adalah kamu malu bertanya tentang suatu hukum apakah hukum thaharah baik laki-laki maupun wanita ataupun hukum-hukum islam lainnya.sehingga kamu tidak terjebak dalam kebodohan yang menenggelamkan dirimu,kamu malu bertanya tentang suatu hukum terhadap seseorang yang paham akan suatu hukum dikarenakan kamu malu dikatakan bodoh olehnya.

Adapun ketika seseorang di tanya tentang suatu ilmu kemudian kamu malu tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena kamu takut dikatakan ulama yang bodoh,ataupun seorang ustadz yang tidak mempunyai ilmu,kamu takut tidak bisa menjawab dikarenakan malu terhadap ilmumu kemudian kamu menjawab tanpa berdasarkan ilmu yang kamu peroleh sehingga menyesatkan dan membohongi masyarakat.bukanlah hal ini dinamakan malu. karena para ulama-ulama yang sholeh dan para sahabat-sahabat Rasulullah saw ketika ditanyakan suatu ilmu yang tidak diketahui olehnya mereka tidak malu mengatakan “aku tidak tahu” karena barang siapa yang mengatakan sesuatu yang tidak dia ketahui dengan jawaban “aku tidak tahu” sungguh itulah suatu jawaban yang benar.dalam suatu hadits dikatakan : “ Sesungguhnya Allah swt tidak lah mencabut ilmu dengan melepaskannya dari dada-dada mereka akan tetapi Allah swt mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama-ulama sehingga tidak ada seseorangpun ulama, maka orang-orang pun mengambil seseorang pemimpin ataupun ketua yang bodoh maka ketika ditanyakan olehnya suatu persoalan maka pemimpin yang bodoh itupun berfatwa tanpa dengan ilmunya maka iapun menyesatkan dan tersesatlah manusia”. (HR Al-Bukhari).

Wallahu`alam bisshowab………..

Juli 22, 2010 - Posted by | Tak Berkategori

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: