Muhammad Willy Ardiansyah Blogs

Just another WordPress.com weblog

Putramu Adalah Pinjaman Dari Allah

hijab2Ummu sulaim rha, istrinya Abu Thalhah ra menuturkan:  Suatu hari, ketika suamiku Abu thalhah sedang pergi, putraku meninggal dunia. Jenazahnya kuselimuti dan kuletakkan di pojok rumah. Tak lama kemudian Abu thalhah datang. hari itu dia berpuasa sunnah. kusiapkan makanan dan ia pun berbuka.

“bagaimana keadaan putra kita?” tanyanya padaku. “Alhamdulillah, keadaannya jauh lebih baik dari sebelumnya. sekarang ia lebih tenang, tidak kesakitan lagi,” jawabku.

Aku lalu berhias dan berdandan. belum pernah aku berdandan sebaik itu,  sehingga dimalam itu Abu Thalhah ra menggauliku. keesokan harinya, aku berkata kepadanya,”  apakah engkau tidak merasa heran dengan tetanggamu? “apa yang terjadi dengan mereka?” jawabnya. “mereka diberi pinjaman, tetapi ketika barang pinjaman itu diminta kembali, mereka merasa sedih dan mengeluh. “betapa buruknya sikap mereka,” ujar Abu Thalhah ra.”ketauhilah, putramu juga sebuah pinjaman dari Allah dan kini Allah telah memintanya kembali.”

Mendengar berita kematian putranya tersebut, Abu Thalhah ra memuji Allah,  mengucapkan kalimat istirja` (inna lillah wa innaa ilaihi rojiuun) ” Sesungguh nya kami adalah milik Allah dan kepadanya lah kami kembali.” kemudian menghadap Rasulullah saw dan menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya.  setelah menyimak ceritanya, Rasulullah saw bersabda: ” Allahumma baarik lahumaa fi lailatihimaa” ( Ya Allah,  berkatilah mereka dalam (hubungan keduanya) tadi malam.”

pembawa cerita ini  berkata, ” berkat doa Rasulullah saw tersebut, aku melihat 7 putra Abu Thalhah di mesjid, mereka semua ahli membaca Al-qur`an.” sahabat jabir ra menyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda: ” Roaitunii dakhaltul jannah fa idza anaa birrumaisho imroatinn abii thalhah” aku bermimpi masuk surga, disana kulihat Rhumaisha, istri Abu Thalhah ra.

Hikmah di balik kisah

Luar biasa, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan ketabahan dan kesabaran Ummu sulaim. hari itu suaminya pergi mencari nafkah dalam keadaan berpuasa, tiba-tiba putra tercintanya meninggal dunia, hatinya tentu sedih. ketika suaminya tiba, ia sadar bahwa suaminya lelah dan lapar. sebagai seorang istri yang shalehah, Ummu Sulaim mengetahui bahwa sangat tidak tepat jika ia harus menyambutnya dengan berita duka. karena itulah, ketika suaminya menanyakan bagaimana keadaan putranya, ia menjawab dengan jujur, bahwa keadaan putranya jauh lebih baik, ia yakin bahwa saat ini putranya yang belum memiliki dosa itu berada di surga Allah. sebuah jawaban yang sangat bijaksana, tidak berdusta akan peristiwa yang sebenarnya terjadi dan sekaligus mampu menenangkan hati suami.

Ummu Sulaim lalu mempersiapkan hidangan untuk suaminya berbuka. selepas itu, ia berdandan demi menyenangkan hati suaminya. coba anda bayangkan, bagaimana kesabaran Ummu Sulaim sehingga ia dapat menyembunyikan semua kesedihannya tersebut dibalik wajah yang berseri-seri penuh senyum. malam itu bahkan sanggup melayani suaminya dengan sempurna. keesokan harinya di waktu yang tepat, Ummu Sulaim baru memberitahukan kepada suaminya apa yang sebenarnya terjadi. Ia mengajarkan kepada kita bagaimana cara menyampaikan berita duka. Ia mampu menyampaikan berita duka tersebut dengan cara yang luar biasa indah. tentu saja sang suami Abu Thalhah kaget, Ia bingung dengan bimbang atas sikap istrinya tersebut. benarkah yang Ia lakukan, Sang Anak meninggal dunia, tetapi tetap berdandan untuk menyenangkan dan melayani suaminya dengan baik. Pagi itu juga Abu Thalhah menghadap Rasulullah menceritakan peristiwa yang dialaminya. Beliau saw membenarkan tindakan Ummu Sulaim bahkan mendoakan keduanya.

Saudaraku mampukah kita bersabar seperti itu?? dalam kehidupan ini kita terlalu rapuh, sedikit cobaan mampu menggoncangkan iman dan menghapus semangat hidup.Ummu Sulaim telah melaksanakan sabda baginda Muhammad saw yang berbunyi: ( Asshobru `indas shodamatil ula) ” sabar itu pada pukukan pertama”(HR Bukhari,Muslim).

Dan coba kita perhatikan, dalam kisah di atas, ketika mendengar berita kematian putranya, Abu Thalhah menerimanya dengan penuh kesabaran dan mengucapkan kalimat istirja` memuji Allah.semoga kisah di atas dapat memacu kita untuk lebih sabar didalam menghadapi segala persoalan.

Oktober 23, 2009 - Posted by | Putramu adalah Pinjaman dari Allah

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: