Muhammad Willy Ardiansyah Blogs

Just another WordPress.com weblog

Hubungan Antara Suami Dan istri

69875Al-QURAN menganggap penting untuk menampilkan masalah tujuan kejiwaan dari perkawinan, dan tujuan itu justru dijadikan standar membina kehidupan berumah tangga. Tujuan ini untuk melukiskan ketenteraman nafsu seksual dengan memperoleh keragaman cinta antara suami-isteri, memperluas dunia kasih-sayang antara dua keluarga, lebih meratanya perasaan cinta kasih yang meliputi kedua orang tua sampai kepada anak-anak.

Sesuatu yang paling penting dalam hubungan suami dan istri ini. agar tercipta keluarga yang penuh kasih dan sayang sebagaimana yang disebutkan dalam firman allah: “Di antara tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah, yaitu Ia menjadikan untuk kamu jodoh-jodoh dari diri-diri kamu sendiri supaya kamu menjadi tenteram dengan jodoh itu, dan Ia menjadikan antara kamu cinta dan kasih-sayang, sesungguhnya yang demikian itu sungguh sebagai bukti-bukti bagi orang yang mau berfikir.” (ar-Rum: 21)

AL-QUR`AN  menamakan hubungan antara suami dan istri adalah dengan sifat At-tagassyi (adanya ketenangan).
begitu juga hadits nabi muhammad saw dari Abu hurairah Ra mengatakan bahwasanya nabi muhammad saw bersabda: tidak lah suatu kaum duduk dalam suatu rumah dari rumah Allah membaca al-qur`an,dan mempelajarinya maka malaikat akan menaungi mereka,menyelimuti dengan rahmat dan menurunkan kepada mereka ketenangan.(HR.Muslim,Ahmad).

Lalu hal apakah dalam hukum syar`i yang sangat penting dan dilihat dari ilmu kesehatan dalam hubungan suami dan istri :

1. Hukum syar`i melarang suami dan istri dalam melakukan hubungan yang salah dalam menjalani rumah tangganya, Nabi Muhammad saw melarang seorang suami mendatangi istrinya dari duburnya (anal) , banyak hadits yang melarang dalam hal ini. salah satunya  “Jangan Kamu setubuhi isterimu di duburnya. ” (Riwayat Ahmad, Tarmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah).dalam hadits yang lain dikatakan: “sesungguhnya Allah tidak akan melihat seorang laki-laki yang mendatangi istrinya dari duburnya”. arti dari tidak melihat dalam hadit ini adalah : sesungguhnya Allah menjauhi rahmatnya dan kema`afannya. hal ini dilarang, karena Allah melarang hal demikian supaya tidak ada terjadi sesuatu penyakit atau yang mengakibatkan tidak sehat terhadap suami dan istri.

2. Nabi muhammad saw melarang suami mendatangi istrinya ketika sedang haid,sebagaimana dalam Al-qur`an dikatakan bahwa haid adalah (kotoran) penyakit. Allah mengatakan: “mereka bertanya kepadamu tentang haidh, katakanlah”bahwasanya haid itu adalah kotoran” oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid”. dan jangan lah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci, apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan  Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”. (Al-baqarah ayat 222)

Sungguh ajaib Al-qur`an ini,dalam ayat ini dijelaskan ,ada 3 yang sangat ditekankan dalam ayat ini dan ada 3 perkara sesorang itu syaratnya suci yang harus diperhatikan :

3 perkara yang sangat ditekan kan:
1. Bahwsanya haid itu kotor
2. Hendaklah kamu menjauhi mereka.
3. Dan jangan lah kamu mendekati mereka.

dan 3 perkara syaratnya suci yang harus diperhatikan:
1. Jangan lah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.
2. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan  Allah kepadamu.
3. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.

Dalam riwayat diceriterakan, bahwa orang-orang Yahudi dan Majusi terlalu berlebih-lebihan dalam menjauhi isterinya ketika datang bulan; kebalikan dari orang-orang Nasrani, yang menyetubuhi isterinya ketika datang bulan. Mereka samasekali tidak menghiraukan masalah datang bulan itu. Dan orang-orang jahiliah samasekali tidak mau makan, minum, duduk-duduk dan tinggal serumah dengan isterinya yang kebetulan datang bulan, seperti yang dikerjakan oleh orang Yahudi dan Majusi.

Sementara orang Arab ada yang memahami arti menjauhi perempuan ketika haidh itu berarti tidak boleh tinggal bersama mereka, justru itu Nabi Muhammad s.a.w. kemudian menjelaskan kepada mereka maksud daripada ayat tersebut,  dengan sabdanya sebagai berikut.

“Saya hanya perintahkan kepadamu supaya kamu tidak menyetubuhi mereka ketika mereka itu dalam keadaan haidh; dan saya tidak menyuruh kamu untuk mengusir mereka dari rumah seperti yang dilakukan oleh orang ajam. Ketika orang-orang Yahudi mendengar penjelasan ini, kemudian mereka berkata: si laki-laki ini (Nabi Muhammad) bermaksud tidak akan membiarkan sedikitpun dari urusan kita, melainkan ia selalu menyalahinya.”(tafsir Ar-razi 6:66)

Dengan demikian tidak salah seorang muslim bersenang-senang dengan isterinya ketika dalam keadaan haidh, asalkan menjauhi tempat yang berbahaya itu.

Di sini Islam tetap berdiri sebagaimana statusnya semula  yaitu penengah antara dua golongan yang ekstrimis, di satu pihak sangat ekstrim dalam menjauhi perempuan yang sedang datang bulan sampai harus mengusirnya dari rumah, sedang di pihak lain memberikan kebebasan sampai kepada menyetubuhinya pun tidak salah.

Ilmu kesehatan modern telah menyingkapkan, bahwa darah haidh (menstrubation) satu peristiwa pancaran zat-zat racun yang membahayakan tubuh apabila zat itu masih melekat pada badan.(Insya`allah akan kita lanjutkan ke tulisan berikutnya ……….)

April 8, 2009 - Posted by | Hubungan Suami Istri

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: